Sunday, December 9, 2018

Pengalaman Menggunakan 2 Smartphone Mantan Flagship. Samsung or Xiaomi?

Abdian
Kalau kita bicara mengenai handphone atau smartphone pada tahun sekarang ini. Barang tersebut sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Seolah barang tersebut tidak lagi menjadi barang mewah karena sudah banyaknya smartphone canggih yang bisa didapat dengan harga yang terjangkau. Berbeda jika dibandingkan dengan 5 tahunan yang lalu yang dimana pengguna smartphone belum terlalu banyak.

Saya sendiri menggunakan hp android pertama kali sekitar 5 tahunan yang lalu. Hp android pertama saya saat itu samsung galaxy duos yang jika spesifikasi dibawa pada tahun sekarang sudah sangat jauh ketinggalan. Hp tersebut saya dapatkan karena dibelikan oleh kakak saya yang cenderung kasihan melihat saya masih menggunakan hp nokia symbian yang sedikit buluk hahah. Hp tersebut saya gunakan sampai tahun 2 kuliah dan sebenarnya untuk mengakses line, wa, dan instagram di hp tersebut sangatlah lambat walaupun saya membukanya disaat yang bersamaan. Itulah alasannya dulu saya slow respon dengan chat yang masuk karena malasnya membuka hp yang lambat tersebut hahah ditambah lagi saya jomblo, jadi motivasi untuk fast respon dengan chat itu tidak ada..

Akhir tahun 2016 saya menemukan HP yang membuat saya tertarik untuk menggunakannya. Smartphone tersebut keluaran xiaomi dengan seri Mi 5 yang jika dilihat dari spesifikasinya untuk tahun 2016 itu sudah sangat gahar. Saat itu hp mi 5 sudah termasuk flagshipnya xiaomi berbarengan dengan seri mi mix. Saya mendapatkan hp tersebut dari sebuah toko online dan 2 tahun berlalu setelah digunakan barangnya masih sangat bagus.

Smartphone daily driver saya berganti pada bulan juni 2018 ini. Saya beralih kembali ke samsung dengan menggunakan seri note yaitu samsung galaxy note 8. Pada saat membelinya sebenarnya seri itu sudah termasuk mantan flagship karena seri s samsung sudah mengeluarkan seri s9 dan s9+ nya bahkan 2 bulan kemudian samsung note 9 diluncurkan. Tapi walaupun sebenarnya seri yang terbaru sudah keluar bukan berarti si mantan flagship ini ketinggalan jaman loh. Sama saat seri s9 dan s9+ muncul, perubahan dari seri s8 ke s9 terasa tidak terlalu jauh.

Oke inti dari tulisan saya akan membandingkan bagaimana pengalaman saya menggunakan kedua hp ini yaitu xiaomi mi 5 dan samsung note 8. Untuk xiaomi mi 5 saya menggunakannya sekitar 2 tahun kurang dan untuk samsung note 8 ini saya baru menggunakannya sekitar 6 bulan saja. Perbandingan yang saya jelaskan tidak akan terlalu dalam sampai ke spesifikasinya karena saya bukan ahlinya melainkan seeprti bagaimana saat digunakan sehari-hari.

Kita masuk kebahasan pertama, untuk hp sendiri untuk yang peratma kali dilihat oleh orang itu adalah tampilan luarnya. Tentunya tampilan fisik luar tidak bisa saya samakan mengingat xiaomi mi 5 masih mengusung 16:9 dan note 8 sudah full display 18:9 namun untuk pemakaian awamnya pertama kali yang saya rasakan bobot dimana bobot note 8 itu jauh lebih berat dibandingkan hp lama saya itu. Saya ingat ketika minggu-minggu pertama saya menggunakannya saya sedikit kewalahan dengan bobotnya yang berat itu hahah but its okay.

Beralih dari tampila fisik, hal pertama bagi saya yang sangat terasa berbeda adalah tampila softwarenya dimana xiaomi menggunkaan miui dan samsung dengan touchwiznya. Saya mengakui tampila samsung lebih user friendly dan saya lebih nyaman menggunakannya ketimbang miui yang gitu-gitu aja. Saya kira tampilan miui akan sedikit berbeda jika dilihat dari seri yang diatas, ternyata saat saya melihat xiaomi mi6x punya teman ternyata tampilannya tidak teralu beda dengan mi5 saya. Oh ya, mi5 saya sudah miui 10 yang otomatis sudah yang terbaru. Kemudian hal yang dulu sempat saya tentang karena perihal harga adalah super amolednya yang sering banget digunakan oleh samsung. Saya akui penggunaan super amoled terasa jauh berbeda nyamannya saat saya melihat layar dengan kualitas ips saja. Tentunya opini orang beda-beda dan kenapa xiaomi harganya bisa relaitf rendah karena menggunakan bahan yang kualitasnya tidak terlalu tinggi. Mungkin itulah salah satu alasannya kenapa orang tua lebih banyak menggunakan produk samsung.

Tentunya ada harga ada kualitas namun bukan karena terfokus kekualitas saja kita tidak memperhatikkan hal lainnya. Saya menggunakan hp ini bukan karena gengsi atau apa tapi karena memang saya ingin mencoba sesuatu yang bagus yang bisa bertahan untuk bebrapa saat kedepan.

Demikian postingan saya kali ini, saya membuat artikel ini hanya tulisan iseng-iseng pengalaman menggunakan hp yang pernah saya pakai. See ya.

Selamat jalan datuk

Abdian
Kesempatan kali ini saya mencoba menulis dengan suasana yang baru. Saya coba membuat postingan di sebuah cafe di lantai 2 nya. Setidaknya menulis dengan sambil melihat pemandangan alam memberikan kesan positif bagi saya untuk mengupdate blog ini.

Tulisan ini akan saya dedikasikan kepada datuk dari mama saya yang berpulang 1 minggu yang lalu tepatnya hari Sabtu tanggal 1 Desember 2018. Secara fisik beliau memang sudah tua. Kisaran umur beliau saat berpulang sekitaran 86 an keatas. Angka segitu merupakan hitung-hitungan kasar dari papa karena memang tidak ada bukti asli berapa umur datuk. Ya biasa orang dulu yang tinggal di dusun yang tidak terlalu mengurus dengan berkas negara.

Ketika bulan puasa kemarin datuk sempat masuk rumah sakit yang diharuskan beliau di opname selama seminggu. Kebetulan waktu itu saya sudah pulang ke rumah dan sempat melihat datuk. Tapi bukan itu saat terakhir saya melihat beliau. Saat lebaran saya sempat bertemu beliau juga disaat kami mudik lebaran dan itu juga bukan saat terakhir saya bertemu beliau. Di penghujung bulan oktober, sekitaran tanggal 20 an saya sempat pulang kerumah untuk suntik vaksin meningitis sebagai prosedur pergi umroh. Waktu itu datuk dan nenek dari talo juga nenek dari seginim datang ke bengkulu untuk suntik tersebut.

Walaupun saya tidak terlalu lama pulang saat itu tapi ada hal yang membekas saat itu. Sore sebelum besoknya saya berangkat ke padang lagi saya sempat mengobrol dengan datuk hanya berdua saja. Percakapannya lumayan lama, ada 1 jam kalau tidak salah. Kami bercerita apa aja. Beliau sempat berpesan jaga orang tua, kalau saya pergi merantau jauh dan lama siapa yang akan mengurus orang tua dan rumah. Saat itu saya hanya bisa membalas dengan senyuman dan sedikit ucapan bahwa saya tidak akan seperti itu. Saya ingat juga beliau sempat nanya tentang jodoh, ya pertanyaan umum sih kapan mau nikah gitu kan. Saya membalas untuk saat ini saya mau lulus dulu, dapat kerja dan baru nikah, mungkin sekitaran 2 tahun lagi jawab saya saat itu. Oh ya, saat itu saya sempat menunjukkan foto febrina ke beliau. Saya bersyukur sempat mengenalkan dia ke datuk sebelum datuk meninggal.

Sampai saatnya saya mendapat kabar di sabtu siang seminggu yang lalu kalau datuk sudah tiada. Saya hanya terdiam. Saya sedih saya tidak bisa bertemu langsung disaat terakhirnya karena terkait jarak. Datuk dikuburkan di pemakaman dekat rumah di dusun disore hari itu juga.

Semoga datuk ditempatkan di tempat terbaik d sisi-Nya.