Friday, November 23, 2018

Hey Kamu! Happy Anniversary Cinta

Abdian


Tulisan ini saya buat untuk seseorang yang sangat saya cintai saat ini. Dia adalah Febrina Rahmadani. Cewek yang cukup tinggi dengan tubuh besarnya. Ya sedikit besar diantara seumuran dia karena dia seorang mantan atlet, atlet lempar cakram (yang notabene badannya gede-gede).

Saturday, November 3, 2018

KKN, SEINDAH ITU KAH? #PART2

Abdian
Pada bagian ini akan sedikit mengisahkan saya dan teman-teman saat melaksanakan KKN. Ngomong-ngomong kenapa sih saya perlu repot-repot menulis pengalaman saya yang sudah lama berlalu? Ya alasannya seperti biasa sih, saya ingin saya dimasa depan bisa melihat cerita saya ini dan kemudian mengingat akan masa lalu yang menurut saya patut untuk dikenang. Harusnya bagusnya ditulis tidak lama setelah kejadian berlangsung but its okay.
Baru sampai, tiduran di posko cewek
Hari pertama kami yang cowok langsung menuju ke posko kami yang cowok yaitu rumah Bu Ita. Rumahnya sedikit terpisah dari rumah warga yang lain tapi tidak terlalu jauh dari masjid dan yang saya ingat disana ada pohon durian. Hahaha ya sih ga penting dengan pohonnya. Kamar yang kami tinggali itu termasuk kategori kecil untuk 7 orang. Tapi setidaknya kami sudah cukup bersyukur untuk saat itu karena sudah ada yang mau menumpangi. Malam itu ketika tidur KKN pertama kali saya sangat ingat bagaimana kami mengadakan sebuah simulasi tidur terlebih dahulu hahaha hal yang sangat lucu waktu itu. Kami melakukan simulasi tersebut biar tau posisi tidur yang pas untuk dibandingkan dengan jumlah orang dan luas kamar. Posisi tidurnya yang lurus gitu aja deh, ga nyaman tapi dinyaman-nyamanin.

KKN, Seindah itu kah? #PART1

Abdian
Hal yang menarik dari cerita saya kali ini adalah peristiwa yang akan saya tulis sudah lama terjadi, lebih tepatnya sudah 1 tahun 1 bulan semenjak KKN berakhir. Entah kenapa bagi saya waktu yang lama itu tidak membuat ingatan akan masa-masa itu terlupakan begitu saja. Sudah lama rasanya saya ingin mencoba menulis kisah ini dengan maksud agar Abdian di masa depan bisa membacanya jikalau lupa. Maka dari itu mari simak tulisan saya ini.

Dalam masa perkuliahan jenjang sarjana, biasanya terdapat satu mata kuliah yang mewajibkan mahasiswanya untuk turun ke masyarakat. Turun ke masyarakat ini berarti berusaha membantu dan membuat perubahan terhadap lingkungan warga sekitar yang mereka tinggali. Bisa jadi seperti sebuah bentuk pengabdian masyarakat kah atau membuat sebuah program kesehatan dan pendidikan terhadap anak-anak sekitar bahkan bisa juga mengadakan sebuah acara yang mampu menarik simpati masyarakat untuk ikut serta meramaikannya. Mata kuliah ini disebut dengan kuliah kerja nyata yang sering juga disingkat dengan KKN.

Saya ingat bayangan pertama saya mengenai KKN itu begitu idealis. Saya harus membantu masyarakat dengan sungguh-sungguh. Membuat sebuah program kerja yang nantinya akan berguna bagi masyarakat dan juga ingin membuat sebuah perubahan atas dasar yang saya lakukan. Namun semua itu tidak semudah yang saya pikirkan. Karena ternyata KKN tidak hanya sebatas program kerja kepada masyarakat. Lebih dari itu juga tentang orang-orang dalam satu kelompok yang menjalani KKN tersebut. Saya katakan demikian karena memang terjadi hal-hal yang mengenai kelompok. Bayangkan bagaimana menyatukan orang yang banyak dalam satu kelompok untuk berusaha menyatukan pikiran supaya lingkungan KKN itu menjadi nyaman dan program kerja yang direncanaan berjalan dengan baik. Saya rasa semua orang yang pernah melakukan KKN pernah mengalami itu.

Masuk ke pengalaman saya, bulan Mei 2017 diumumkan lokasi penempatan KKN oleh panitia KKN UNAND. Semua orang pada heboh saat itu karena penasaran dengan lokasi mereka. Ada yang ditempatkan didaerah dingin, terpencil dan juga jauh dari pusat keramaian bahkan ada juga yang dapat tempat di dekat kampus. Saya saat itu dapat di daerah Kota Pariaman tepatnya di kecamatan Pariaman Timur, Nagari Kampung Baru Padusunan. Perjalanan dari Padang sampai sana kurang lebih memakan waktu 1 jam lebih sedikit. Untuk sekedar informasi di Sumatera Barat menganut sistem Nagari, Nagari ini kurang lebih sama dengan kelurahan atau desa.
Di rumah Teteh setelah survey lokasi
Jumlah anggota tiap kelompok bervariasi tergantung lokasi kegiatan KKN. Kelompok saya berjumlah 27 Anggota dengan rincian 20 orang cewek dan 7 orang cowok. Saya ingat pertama kali kumpul KKN di sendik pada sore hari yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama di jalan. Saya lupa siapa saja disana yang jelas saat itu pertama kali. Kemudian dilanjutkan dengan kumpul bersama DPL dan juga sempat survei lokasi KKN. H-1 sebelum berangkat KKN kami juga sempat melakukan survei kesana dan saya ikut. Saat itu kami berempat saya bersama Ari, Teteh, dan Enja pergi ke lokasi KKN untuk melihat posko yang akan ditempati dan pergi menemui wali nagari kampung baru padusunan.