Khotbah Jumat Bilingual Ala Muslim di Jepang

Sabtu, Juli 28, 2018

Tulisan dibuat tanggal 23 Januari 2018

Ada hal yang menarik ketika dulu saya berkunjung ke negeri sakura. Khususnya mengenai ibadah disana terutama bagi umat muslimnya.

Masjid Gifu
Hari pertama saya sampai itu Hari Kamis. Ketika sampai di kota tujuan waktu masih menunjukkan pukul 11 dan itu berarti sebentar lagi akan masuk waktu zuhur. Pada saat itu waktu zuhur disana masuk pada jam setengah 12 an. Namun ada sistem yang menarik disini, dimana sholat berjamaah dimasjid disana tidak langsung dilaksanakan ketika waktu sholat masuk seperti di Indonesia dan solusinya diberikan waktu sholat di papan pengumuman digital dalam masjid, contohnya sholat zuhur masuk setengah 12, sholat berjamaahnya jam 12.30. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat muslim sekitar bisa bersiap2 untuk sholat berjamaah bersama. Hal ini juga dikarenakan Umat muslim di Jepang itu minoritas dan itupun kebanyakan karena pendatang (warga negara lain, walaupun warga jepang sendiri sudah mulai banyak yang muslim). Jadi karena sedikit, biasanya satu kota itu cuma ada 1 masjid dan itupun ga sebesar masjid-masjid yang ada di Indonesia loh. Saya bilang begitu karena beberapa disana itu bahkan tidak membangun dari awal. Jadi seperti membeli gedung kemudian dijadikan masjid (koreksi bilsa saya salah ya). Namun untuk Gifu, dikarenakan dapatnya lahan dan sumber daya yang cukup sehingga bisa membuat bangunan masjid dengan kubah seperti masjid biasanya.


Nah untuk kasus sholat Jumat di Jepang itu cukup menarik bagi saya. Pertama kali saya sholat jumat disana itu mendengarkan dengan cukup khusuk di khotbah pertama. Namun ketika masuk khotbah kedua saya mulai tidak khusuk mendengarkan karena beda bahasa. Pada pertama khatib menggunakan Bahasa Inggris dan Pada khotbah kedua menggunakan bahasa Jepang. Hal itu juga saya rasakan ketika berada di Tokyo dan sempat sholat Jumat disana.

Buka puasa bersama di masjid gifu

Mengenai bilingual atau trilingual mengenai agama islam disana cukup banyak mengingat lebih mudah menyampaikan dakwah dalam bahasa sendiri. Saya saat disana sempat beberapa kali mengikuti pengajian yang diajak oleh Da Angga. Pengajian disana berkumpullah umat muslim dari berbagai negara dalam satu wilayah dan wilayah itu cakupannya lumayan besar loh. Bahkan kita harus sampai jalan 2-3 jam untuk sampai ke lokasi pengajian. Sungguh pengalaman yang berharga bagi saya mengingat durasi saya disana yang tidak terlalu lama.

You Might Also Like

0 komentar

Pengikut

My Photo